PRIVAT AIKIDO

Saatnya kini anda menikmati latihan AIKIDO PRAKTIS & BASIC di RUMAH ANDA, KANTOR ANDA, SEKOLAH ANDA atau dimanapun tempat yang anda suka

2012-11-12

PRINSIP TEKNIK AIKIDO

Aikido adalah seni bela diri jepang yang diciptakan oleh Morihei Ueshiba atau O’sensei. Aikido adalah bela diri yang bersifat bertahan, tidak menyerang dan mencarai harmoni dengan penyerang. Karena sifatnya yang tidak menyerang maka tehnik-tehnik yang dipakai di aikido tidaklah sama dengan bela diri lain pada umumnya yang bersifat menyerang. Strategi dan prinsip aikido untuk melumpuhkan serangan adalah sebagai berikut.

1. gerakan melingkar.

Tehnik aikido bersifat mengalirkan tenaga lawan. Oleh karena itu, tehnik aikido tidak didesain untuk menghadang serangan lawan dengan “block”. Kekuatan serangan lawan dialirkan dengan prinsip-prinsip gerakan melingkar.
Prinsip-prinsip gerakan melingkar ini bisa dilihat dari gerakan tubuh dan anggota tubuh seperti tangan dan kaki.

a. gerakan kaki dengan prinsip melingkar.
Gerakan kaki dengan prinsip melingkar bisa dilihat dalam gerakan tenkan dan kaiten. Tenkan adalah gerak kaki maju kesamping lalu berputar 180 derajat untuk mengalirkan sekaligus menghindari serangan lawan. Gerakan tenkan bisa dilihat pada tehnik seperti tsuki kotegashi, katatetori kokyu ho, katatetori shihonage ura. Gerakan kaiten adalah gerakan kaki melangkah berputar 360 derajat. Gerakan kaki ini bisa dilihat dalam tehnik seperti shomen uchi irimi nage.

b. gerakan tangan dan tubuh yang bersifat melingkar.
Gerakan melingkar pada dasarnya tidak bersifat sebagian, namun harmonisasi antara tubuh, tangan dan kaki dalam satu koordinasi. Gerakan melingkar tangan ataupun gerak tubuh bisa dilihat pada katatetori ikkyo, katatetori shihonage dan lain-lain.

2. kokyu dan haragei

kokyu adalah nafas, sedangkan haragei adalah titik pusat yang berada di bawah pusar. Semua gerakan dalam aikido harus disertai dengan nafas yang harmonis dan semua gerakan juga harus terpusat kepada titik haragei aikidoka. Latihan kokyu ini tercermin dalam latihan tehnik seperti zagi kokyu ho ataupun dalam tehnik kokyu nage. Namun begitu semua tehnik seharusnya dilandasi oleh kokyu ho undo. Dengan begitu tehnik aikido tidak mengandalkan tehnik fisik semata.
Penting juga dalam melakukan tehnik aikido, aikidoka mempertahankan postur dengan titik haragei terpusat. Titik haragei merupakan titik keseimbangan sekaligus titik di mana ki dialirkan dan di simpan. Jika titik haragei tidak dijaga, maka aikidoka akan mudah goyang kesemibangan tubuhnya serta tehnik menjadi berat untuk dilakukan.

3. Musubi

Musubi secara harafiah diartikan sebagai “simpul tali” atau “menali simpul” antara dua tali. Secara makna lugas, apabila dua tali di talikan dengan sebuah simpul, maka bila satu ujung tali dihentak, maka efeknya akan sampai ke ujung tali yang lain – dimana dua ujung tali tersebut menjadi perwakilan simbolis daru nage dan uke. Sebagian besar praktisi aikido menafsirkan bahwa musubi adalah kerja-sama yang dilakukan antara nage dan uke dalam berlatih aikido. Kerjasama ini dianggap perlu supaya sebuah tehnik bisa dieksekusi dengan baik dan indah. Hal ini sangat perlu ketika seorang praktisi masih belajar aikido di awal ia belajar aikido. Namun begitu, kerjasama tersebut tidak menjadi dasar pemahaman musubi, apabila dikaitkan dengan fakta bahwa bela diri bukan sebuah fenomena yang terbatas di dalam dojo dimana uke “harus” bersedia menurut untuk diberi eksekusi, sehingga uke hanya mengikuti skenario tehnik.
Bela diri secara ideal merupakan fenomena di dalam dojo, dan diluar dojo yang di dasari ideologi tertentu, yang didalam aikido adalah harmoni dan cinta kasih. Dalam kondisi nyata, seorang penyerang (bukan uke di dalam dojo) tidak akan mau di suruh menurut “kamu harus begini, ketika saya melakukan tehnik ini”. Penyerang bergerak menurut inisiatifnya sendiri, dengan pola ragam gerak yang tidak selalu sama, sperti yang terlihat dalam dojo. Oleh karena itu seorang praktisi aikido harus mengerti bagaimana membaca ritme penyerang, sehingga praktisi bisa menyesuaikan ritme pembelaan dirinya dengan ritme serangan yang ditujukan kepadanya. Musubi lebih bisa dimaknai cara memahami diri sendiri dan juga memahami penyerang, sehingga praktisi bela diri mampu bertindak dengan waktu yang tepat untuk mengeksekusi tehnik aikido, tentu dengan tidak meninggalkan ideologi aikido (harmoni dan cinta kasih) dalam upaya pembelaan dirinya. serang. Maka, pembelaan diri pun di mulai dari sisi kejiwaan, mental pembela diri, yang kemudian di salurkan melalui seluruh anggota tubuh sebagai potensi pembelaan diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar